LAPORAN
PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN
DIAGNOSA
MEDIS EPILEPSI
Tugas
Pada Mata Kuliah Metodologi Keperawatan
Program
Study Keperawatan Kelas Reg A1 semester 2
Dosen
Aris
Citra Wisuda S.Kep, Ners
Di
susun Oleh:
Tia Destiana
NPM:
13.14201.30.04
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
SEKOLAH
TINGGI ILMU KESEHATAN BINA HUSADA
PALEMBANG
TAHUN
AJARAN 2013/2014
Laporan Pendahuluan
Epilepsi
A. Pengertian
Epilepsi adalah penyakit serebral
kronik dengan karekteristik kejang berulang akibat lepasnya muatan listrik otak
yang berlebihan dan bersifat reversibel (Tarwoto, 2007)
Epilepsi adalah gangguan kronik otak dengan ciri timbulnya gejala-gejala yang datang dalam serangan-serangan, berulang-ulang yang disebabkan lepas muatan listrik abnormal sel-sel saraf otak, yang bersifat reversibel dengan berbagai etiologi (Arif, 2000)
Epilepsi adalah sindroma otak kronis dengan berbagai macam etiologi dengan ciri-ciri timbulnya serangan paroksismal dan berkala akibat lepas muatan listrik neuron-neuron otak secara berlebihan dengan berbagai manifestasi klinik dan laboratorik (Anonim, 2008).
Epilepsi adalah gangguan kronik otak dengan ciri timbulnya gejala-gejala yang datang dalam serangan-serangan, berulang-ulang yang disebabkan lepas muatan listrik abnormal sel-sel saraf otak, yang bersifat reversibel dengan berbagai etiologi (Arif, 2000)
Epilepsi adalah sindroma otak kronis dengan berbagai macam etiologi dengan ciri-ciri timbulnya serangan paroksismal dan berkala akibat lepas muatan listrik neuron-neuron otak secara berlebihan dengan berbagai manifestasi klinik dan laboratorik (Anonim, 2008).
B.
Etiologi
Penyebab pada kejang epilepsi sebagian besar belum diketahui (idiopatik), sering terjadi pada:
1. Trauma lahir, Asphyxia neonatorum
2. Cedera Kepala, Infeksi sistem syaraf
3. Keracunan CO, intoksikasi obat/alkohol
4. Demam, ganguan metabolik (hipoglikemia, hipokalsemia, hiponatremia)
5. Tumor Otak
6. Kelainan pembuluh darah (Tarwoto, 2007).
Faktor etiologi berpengaruh terhadap penentuan prognosis. Penyebab utama, ialah epilepsi idopatik, remote simtomatik epilepsi (RSE), epilepsi simtomatik akut, dan epilepsi pada anak-anak yang didasari oleh kerusakan otak pada saat peri- atau antenatal. Dalam klasifikasi tersebut ada dua jenis epilepsi menonjol, ialah epilepsi idiopatik dan RSE. Dari kedua tersebut terdapat banyak etiologi dan sindrom yang berbeda, masing-masing dengan prognosis yang baik dan yang buruk. Penyebab- penyebab kejang pada epilepsi
Bayi (0- 2 th):Hipoksia dan iskemia paranatal
Anak (2- 12 th): Idiopatik,Infeksi akut,Trauma,Kejang demam
Remaja (12- 18 th): Idiopatik,Trauma,Gejala putus obat dan alcohol,Malformasi anteriovena
Dewasa Muda (18- 35 th) :Trauma,Alkoholisme,Tumor otak
Dewasa lanjut (> 35) :Tumor otak,Penyakit serebrovaskular,Gangguan metabolik (uremia, gagal hepatik, dll ).
Penyebab pada kejang epilepsi sebagian besar belum diketahui (idiopatik), sering terjadi pada:
1. Trauma lahir, Asphyxia neonatorum
2. Cedera Kepala, Infeksi sistem syaraf
3. Keracunan CO, intoksikasi obat/alkohol
4. Demam, ganguan metabolik (hipoglikemia, hipokalsemia, hiponatremia)
5. Tumor Otak
6. Kelainan pembuluh darah (Tarwoto, 2007).
Faktor etiologi berpengaruh terhadap penentuan prognosis. Penyebab utama, ialah epilepsi idopatik, remote simtomatik epilepsi (RSE), epilepsi simtomatik akut, dan epilepsi pada anak-anak yang didasari oleh kerusakan otak pada saat peri- atau antenatal. Dalam klasifikasi tersebut ada dua jenis epilepsi menonjol, ialah epilepsi idiopatik dan RSE. Dari kedua tersebut terdapat banyak etiologi dan sindrom yang berbeda, masing-masing dengan prognosis yang baik dan yang buruk. Penyebab- penyebab kejang pada epilepsi
Bayi (0- 2 th):Hipoksia dan iskemia paranatal
Anak (2- 12 th): Idiopatik,Infeksi akut,Trauma,Kejang demam
Remaja (12- 18 th): Idiopatik,Trauma,Gejala putus obat dan alcohol,Malformasi anteriovena
Dewasa Muda (18- 35 th) :Trauma,Alkoholisme,Tumor otak
Dewasa lanjut (> 35) :Tumor otak,Penyakit serebrovaskular,Gangguan metabolik (uremia, gagal hepatik, dll ).
C.
PATOFISIOLOGI
Menurut para penyelidik bahwa sebagian besar bangkitan epilepsi berasal dari sekumpulan sel neuron yang abnormal di otak, yang melepas muatan secara berlebihan dan hypersinkron. Kelompok sel neuron yang abnormal ini, yang disebut juga sebagai fokus epileptik mendasari semua jenis epilepsi, baik yang umum maupun yang fokal (parsial). Lepas muatan listrik ini kemudian dapat menyebar melalui jalur-jalur fisiologis-anatomis dan melibatkan daerah disekitarnya atau daerah yang lebih jauh letaknya di otak. Tidak semua sel neuron di susunan saraf pusat dapat mencetuskan bangkitan epilepsi klinik, walaupun ia melepas muatan listrik berlebihan. Sel neuron diserebellum di bagian bawah batang otak dan di medulla spinalis.
Menurut para penyelidik bahwa sebagian besar bangkitan epilepsi berasal dari sekumpulan sel neuron yang abnormal di otak, yang melepas muatan secara berlebihan dan hypersinkron. Kelompok sel neuron yang abnormal ini, yang disebut juga sebagai fokus epileptik mendasari semua jenis epilepsi, baik yang umum maupun yang fokal (parsial). Lepas muatan listrik ini kemudian dapat menyebar melalui jalur-jalur fisiologis-anatomis dan melibatkan daerah disekitarnya atau daerah yang lebih jauh letaknya di otak. Tidak semua sel neuron di susunan saraf pusat dapat mencetuskan bangkitan epilepsi klinik, walaupun ia melepas muatan listrik berlebihan. Sel neuron diserebellum di bagian bawah batang otak dan di medulla spinalis.
D.
Manifestasi klinik
· Manifestasi
klinik dapat berupa kejang-kejang, gangguan kesadaran atau gangguan
penginderaan.
· Kelainan
gambaran EEG
· Tergantung
lokasi dan sifat Fokus Epileptogen.
· Dapat
mengalami Aura yaitu suatu sensasi tanda sebelum kejang epileptik (Aura dapat berupa
perasaan tidak enak, melihat sesuatu, men cium bau-bauan tak enak, mendengar
suara gemuruh, mengecap sesuatu, sakit kepala dan sebagainya).
E.
Klasifikasi kejang
1. Kejang
Parsial
·
Parsial Sederhana
Gejala dasar, umumnya tanpa gangguan kesadaran. Misal: hanya satu jari atau tangan yang bergetar, mulut tersentak dengan gejala sensorik khusus atau somatosensorik seperti: mengalami sinar, bunyi, bau atau rasa yang tidak umum/tdk nyaman.
Gejala dasar, umumnya tanpa gangguan kesadaran. Misal: hanya satu jari atau tangan yang bergetar, mulut tersentak dengan gejala sensorik khusus atau somatosensorik seperti: mengalami sinar, bunyi, bau atau rasa yang tidak umum/tdk nyaman.
·
Parsial Kompleks
Dengan gejala kompleks, umumnya dengan ganguan kesadaran. Dengan gejala kognitif, afektif, psiko sensori, psikomotor. Misalnya: individu terdiam tidak bergerak atau bergerak secara automatik, tetapi individu tidak ingat kejadian tersebut setelah episode epileptikus tersebut lewat.
Dengan gejala kompleks, umumnya dengan ganguan kesadaran. Dengan gejala kognitif, afektif, psiko sensori, psikomotor. Misalnya: individu terdiam tidak bergerak atau bergerak secara automatik, tetapi individu tidak ingat kejadian tersebut setelah episode epileptikus tersebut lewat.
2.
Kejang Umum (grandmal)
Melibatkan kedua hemisfer otak yang
menyebabkan kedua sisi tubuh bereaksi Terjadi kekauan intens pada seluruh tubuh
(tonik) yang diikuti dengan kejang yang bergantian dengan relaksasi dan
kontraksi otot (Klonik) Disertai dengan penurunan kesadaran.
F. Pemeriksaan
Diagnostik
1.
Pungsi Lumbar
Pungsi lumbar adalah pemeriksaan cairan serebrospinal (cairan yang ada di otak dan kanal tulang belakang) untuk meneliti kecurigaan meningitis. Pemeriksaan ini dilakukan setelah kejang demam pertama pada bayi.
Pungsi lumbar adalah pemeriksaan cairan serebrospinal (cairan yang ada di otak dan kanal tulang belakang) untuk meneliti kecurigaan meningitis. Pemeriksaan ini dilakukan setelah kejang demam pertama pada bayi.
·
Memiliki tanda peradangan selaput
otak (contoh : kaku leher)
·
Mengalami complex partial seizure
·
Kunjungan ke dokter dalam 48 jam sebelumnya
(sudah sakit dalam 48 jam sebelumnya).
·
Kejang saat tiba di IGD (instalasi
gawat darurat).
·
Keadaan post-ictal (pasca kejang)
yang berkelanjutan. Mengantuk hingga sekitar 1 jam setelah kejang demam adalah
normal
·
Kejang pertama setelah usia 3 tahun
Pada anak dengan usia > 18 bulan, pungsi lumbar dilakukan jika tampak tanda peradangan selaput otak, atau ada riwayat yang menimbulkan kecurigaan infeksi sistem saraf pusat. Pada anak dengan kejang demam yang telah menerima terapi antibiotik sebelumnya, gejala meningitis dapat tertutupi, karena itu pada kasus seperti itu pungsi lumbar sangat dianjurkan untuk dilakukan.
Pada anak dengan usia > 18 bulan, pungsi lumbar dilakukan jika tampak tanda peradangan selaput otak, atau ada riwayat yang menimbulkan kecurigaan infeksi sistem saraf pusat. Pada anak dengan kejang demam yang telah menerima terapi antibiotik sebelumnya, gejala meningitis dapat tertutupi, karena itu pada kasus seperti itu pungsi lumbar sangat dianjurkan untuk dilakukan.
2.
EEG (electroencephalogram)
EEG adalah pemeriksaan gelombang
otak untuk meneliti ketidaknormalan gelombang. Pemeriksaan ini tidak dianjurkan
untuk dilakukan pada kejang demam yang baru terjadi sekali tanpa adanya defisit
(kelainan) neurologis. Tidak ada penelitian yang menunjukkan bahwa EEG yang
dilakukan saat kejang demam atau segera setelahnya atau sebulan setelahnya
dapat memprediksi akan timbulnya kejang tanpa demam di masa yang akan datang.
3. Pemeriksaan
laboratorium
Pemeriksaan seperti pemeriksaan
darah rutin, kadar elektrolit, kalsium, fosfor, magnsium, atau gula darah tidak
rutin dilakukan pada kejang demam pertama. Pemeriksaan laboratorium harus
ditujukan untuk mencari sumber demam, bukan sekedar sebagai pemeriksaan rutin.
4. Neuroimaging
Yang termasuk dalam pemeriksaan neuroimaging antara lain adalah CT-scan dan MRI kepala. Pemeriksaan ini tidak dianjurkan pada kejang demam yang baru terjadi untuk pertama kalinya.
Yang termasuk dalam pemeriksaan neuroimaging antara lain adalah CT-scan dan MRI kepala. Pemeriksaan ini tidak dianjurkan pada kejang demam yang baru terjadi untuk pertama kalinya.
G.
Pencegahan
Upaya sosial luas yang menggabungkan tindakan luas harus ditingkatkan untuk pencegahan epilepsi. Resiko epilepsi muncul pada bayi dari ibu yang menggunakan obat antikonvulsi yang digunakan sepanjang kehamilan.
Upaya sosial luas yang menggabungkan tindakan luas harus ditingkatkan untuk pencegahan epilepsi. Resiko epilepsi muncul pada bayi dari ibu yang menggunakan obat antikonvulsi yang digunakan sepanjang kehamilan.
Program
skrining untuk mengidentifikasi anak gangguan kejang pada usia dini, dan
program pencegahan kejang dilakukan dengan penggunaan obat-obat anti konvulsan
secara bijaksana dan memodifikasi gaya hidup merupakan bagian dari rencana
pencegahan ini.
H.
Pengobatan
Pengobatan epilepsi adalah pengobatan jangka panjang. Penderita akan diberikan obat antikonvulsan untuk mengatasi kejang sesuai dengan jenis serangan. Penggunaan obat dalam waktu yang lama biasanya akan menyebabkan masalah dalam kepatuhan minum obat (compliance) seta beberapa efek samping yang mungkin timbul seperti pertumbuhan gusi, mengantuk, hiperaktif, sakit kepala, dll.
Penanganan terhadap anak kejang akan berpengaruh terhadap kecerdasannya. Jika terlambat mengatasi kejang pada anak, ada kemungkinan penyakit epilepsi, atau bahkan keterbalakangan mental. Keterbelakangan mental di kemudian hari. Kondisi yang menyedihkan ini bisa berlangsung seumur hidupnya.
Pengobatan epilepsi adalah pengobatan jangka panjang. Penderita akan diberikan obat antikonvulsan untuk mengatasi kejang sesuai dengan jenis serangan. Penggunaan obat dalam waktu yang lama biasanya akan menyebabkan masalah dalam kepatuhan minum obat (compliance) seta beberapa efek samping yang mungkin timbul seperti pertumbuhan gusi, mengantuk, hiperaktif, sakit kepala, dll.
Penanganan terhadap anak kejang akan berpengaruh terhadap kecerdasannya. Jika terlambat mengatasi kejang pada anak, ada kemungkinan penyakit epilepsi, atau bahkan keterbalakangan mental. Keterbelakangan mental di kemudian hari. Kondisi yang menyedihkan ini bisa berlangsung seumur hidupnya.
I.
KOMPLIKASI
· Kerusakan
otak akibat hipeksia dan retardasi mental dapat timbul akibat kejang yang
berulang
· Dapat timbul
depresi dan keadaan cemas.
ASUHAN KEPERAWATAN
DENGAN DIAGNOSA MEDIS EPILEPSI
Pengkajian
Keperawatan Diagnosa Medis Epilepsi
1.
Aktifitas
atau istirahat
Gejala: terjadi aura, dan tidak sadarkan diri.
2. Sirkulasi
Tanda :
·
Dapat
terjadi apnea
·
Penurunan
kesadaran
·
Nafsu
makan menurun
·
Berat
badan pasien menurun
3. Makanan / cairan
Gejala :nafsu makan menurun , inkontinensia
4. Neurosensori
Gejala : oliguria atau dapat terjadi inkontinensia alfi
5. Kejang / kenyamanan : penurunan kesadaran,
gangguan konsep diri.
6. Pernapasan : oliguria atau dapat terjadi
inkontinensia.
Diagnosa keperawatan dan
intervensi keperawatan pada
Epilepsi
1.
Diagnosa I
Resiko tinggi terhadap trauma, penghentian pernapasan
b/d kelemahan, kesulitan kesimbangan, keterbatasan kognitif, kehilangan
koordinasi otot besar atau kecil, kesulitan emosional
Tujuan : Klien dapat mengidentifikasi faktor presipitasi serangan dan dapat meminimalkan/menghindarinya, menciptakan keadaan yang aman untuk klien, menghindari adanya cedera fisik, menghindari jatuh
Tujuan : Klien dapat mengidentifikasi faktor presipitasi serangan dan dapat meminimalkan/menghindarinya, menciptakan keadaan yang aman untuk klien, menghindari adanya cedera fisik, menghindari jatuh
Hasil yang diharapkan :
a. Mampu mengungkapkan pemaham faktor yang menunjang kemunginan trauma
b. Mendemonstrasikan perilaku perubahan gaya hidup untuk mengurangi faktor resiko
c. Mampu mengubah lingkungan sesuai indikasi untuk meningkatkan keamanan.
a. Mampu mengungkapkan pemaham faktor yang menunjang kemunginan trauma
b. Mendemonstrasikan perilaku perubahan gaya hidup untuk mengurangi faktor resiko
c. Mampu mengubah lingkungan sesuai indikasi untuk meningkatkan keamanan.
2. Diagnosa II
Ketidakefektifan bersihan jalan
nafas berhubungan dengan sumbatan lidah di endotrakea, peningkatan sekresi
saliva
Tujuan : jalan nafas menjadi efektif
Kriteria hasil : nafas normal (16-20 kali/ menit), tidak terjadi aspirasi, tidak ada dispnea.
Tujuan : jalan nafas menjadi efektif
Kriteria hasil : nafas normal (16-20 kali/ menit), tidak terjadi aspirasi, tidak ada dispnea.
3. Diagnosa III
Isolasi sosial b.d rendah diri
terhadap keadaan penyakit dan stigma buruk penyakit epilepsi dalam masyarakat
Tujuan: mengurangi rendah diri pasien
Kriteria hasil:
- adanya interaksi pasien dengan lingkungan sekitar
- menunjukkan adanya partisipasi pasien dalam lingkungan masyarakat.
Tujuan: mengurangi rendah diri pasien
Kriteria hasil:
- adanya interaksi pasien dengan lingkungan sekitar
- menunjukkan adanya partisipasi pasien dalam lingkungan masyarakat.
|
Diagnosa
|
Data
fokus
|
Etiologi
|
Problem
|
|
Dx I
|
Ds
:pasien mengatakan lemas
Do:
pasien terlihat pucat.
-pasien
terlihat merintih kesakitan.
|
kelemahan, kesulitan kesimbangan, keterbatasan
kognitif, kehilangan koordinasi otot besar atau kecil, kesulitan emosional
|
Resiko
tinggi terhadap trauma, penghentian pernafasan.
|
|
Dx II
|
Ds
:pasien mengatakan kesulitan bernafas
Do :
respirasi diatas normal
|
sumbatan lidah di endotrakea, peningkatan sekresi
saliva
|
Ketidakefektifan
bersihan jalan nafas
|
|
Dx III
|
DS: klien terlihat cemas, gelisah.
DO: takikardi, frekuensi napas cepat atau tidak teratur Terjadi kejang epilepsi |
rendah diri terhadap keadaan penyakit dan stigma
buruk penyakit epilepsi dalam masyarakat.
|
Isolasi
sosial
|
Diagnosa prioritas :
1. Resiko tinggi
terhadap trauma, pengehentian pernapsan b/d kelemahan, kesulitan kesimbangan,
keterbatasan kognitif, kehilangan koordinasi otot besar atau kecil, kesulitan
emosional
2. Ketidakefektifan
bersihan jalan nafas berhubungan dengan sumbatan lidah di endotrakea,
peningkatan sekresi saliva
3. Isolasi
sosial b.d rendah diri terhadap keadaan penyakit dan stigma buruk penyakit
epilepsi dalam masyarakat
|
Dx
|
Tujuan
|
Intervensi
keperawatan
|
Rasional
|
|
Dx I
|
Setelah
dilkukan askep 2x24 jam diharapkan masalah resiko tinggi terhadap trauma dapat
teratasi dengan kriteria hasil:
-Mampu mengungkapkan
pemaham faktor yang menunjang kemunginan trauma
-Mendemonstrasikan perilaku perubahan gaya hidup untuk mengurangi faktor resiko |
-Gali bersama sama pasien berbagai stimulasi yang
dapat menjadi pencetus kejang
-Pertahankanlah bantalan lunak pada penghalang temapt tidur |
-alkohol, berbagai obat dan stimulasi lain dapat
meningkatkan resiko terjadinya kejang.
- mengurangi trauma saat kejang selama pasien berada
ditempat tidur
|
|
Dx II
|
Setelah dilakukan askep 2x24 jam
diharapkan masalah Ketidakefektifan bersihan jalan
nafas
teratasi dengan kriteria hasil:
-nafas
normal (16-20 kali/ menit), tidak terjadi aspirasi, tidak ada dispnea.
|
·
Pantau frekuensi
pernafasan, kedalaman dan kerja pernafasan.
·
Perhatikan kualitas
pernafasan
Kolaborasi pemberian therapi Ogsigen bila
perlu
.
|
· Berkembangnya distress pada
pernapasan merupakan indikasi kompresi trakhea karena adanya edema atau
perdarahan.
· Memonitor & mengkaji terus
menerus dapat membantu untuk mende-teksi & mencegah masalah pernafasan.
|
|
Dx III
|
Setelah dilakukan askep 2x24 jam diharapkan
isolasi sosial dapat teratasi dengan kriteria hasil : - adanya
interaksi pasien dengan lingkungan sekitar
- menunjukkan adanya partisipasi pasien dalam lingkungan masyarakat. |
- Identifikasi dengan pasien, factor- factor yang
berpengaruh pada perasaan isolasi sosial pasien
-Memberi
informasi pada perawat tentang factor yang menyebabkan isolasi sosial pasien
-Dukungan
psikologis dan motivasi dapat membuat pasien lebih percaya diri
Kolaborasi:
-Kolaborasi dengan tim psikiater
|
Membantu dalam peningkatan
pengetahuan pasien.
-memperhatikan
dan menanggapi diperlukan untuk membangun sebuah kepercayaan.
|
Catatan perkembangan
|
Dx
|
Implementasi
|
Evaluasi
|
|
Dx I
|
Menggali bersama sama pasien berbagai stimulasi yang
dapat menjadi pencetus kejang.
-mempertahankan bantalan lunak pada penghalang tempat tidur. |
S
: pasien mengatakan lemas
O
: pasien terlihat merintih kesakitan
A:
masalah gangguan rasa nyaman
P
: lanjut intervensi
-pertahankan
bantal lunak pada penghalang tempat tidur.
|
|
Dx II
|
·
memantau frekuensi
pernafasan, kedalaman dan kerja pernafasan.
·
memperhatikan kualitas
pernafasan.
·
mengkolaborasi pemberian
therapi Oksigen bila perlu
|
S : pasien mengatakan kesulitan
bernafas.
O :respirasi diatas normal.
A : masalah Resiko bersihan jalan
nafas tidak efektif belum teratasi.
P : lanjut intervensi
-pemberian therapy oksigen,
|
|
Dx III
|
mengIdentifikasi
dengan pasien, factor- factor yang berpengaruh pada perasaan isolasi sosial
pasien
-Memberi
informasi pada perawat tentang factor yang menyebabkan isolasi sosial pasien.
-mendukungan
psikologis dan motivasi dapat membuat pasien lebih percaya diri
Kolaborasi:
-mengKolaborasi dengan tim psikiater
|
S
: pasien mengatakan tidak mengetahui penyakit yang diderita.
O
: pasien terlihat bingung.
A
: masalah kurang pengetahuan belum teratasi
P
: lanjut implementasi
-mengkaji
tingkat pemahaman pasien.
|
Catatan perkembangan :
|
Dx
|
Implementasi
|
Evaluasi
|
|
Dx I
|
mempertahankan bantalan lunak pada penghalang tempat
tidur.
|
S
: pasien mengatakan tidak lemas lagi.
O:
pasien terlihat membaik.
A
: masalah resiko tinggi terhadap trauma.
P
: lanjut intervensi :
-menganjurkan
pasien untuk banyak istirahat.
|
|
Dx II
|
-
mempertahankan klien dalam posisi semi fowler.
|
S : pasien
mengatakan Resiko bersihan jalan
nafas tidak efektif dapat teratasi.
O : Pasien tampak tidak ada kesulitan pernafasan,
tidak mengeluh sesak nafas.
A :
masalah bersihan jalan nafas tidak efektif teratasi.
P :
lanjut intervensi :
-menganjurkan
pasien untuk banyak istirahat dirumah.
|
|
Dx III
|
-mendukungan
psikologis dan motivasi dapat membuat pasien lebih percaya diri
Kolaborasi:
-mengKolaborasi
dengan tim psikiater
|
S :
Pasien mengatakan mengetahui penyakit yang diderita
O:
Pasien terlihat membaik.
A:
Masalah isolasi sosial teratasi.
P:
lanjut intervensi :
-menganjurkan
pasien untuk lebih percaya diri.
|
Daftar
pustaka :
http://putrisayangbunda.blog.com/2010/02/10/askep-epilepsi/
http://abdul-mufti.blogspot.com/2009/12/asuhan-keperawatan.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar